Dalam Kimiya al-Sa‘ādah, Imam al-Ghazali membuka pembahasan dengan pertanyaan yang sering muncul: Apa hakikat hati? Ia menjelaskan bahwa syariat tidak memberi rincian tentang esensi ruh lebih dari firman Allah: “Mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakan: ruh itu urusan Tuhanku.” Ruh, menurutnya, berada dalam ranah amr—wilayah kekuasaan Allah yang tidak tunduk pada ukuran, bentuk, atau takaran. Allah sendiri berfirman: “Ingatlah, milik-Nya-lah penciptaan dan perintah.”

Manusia, menurut Imam al-Ghazali , berada di dua alam sekaligus: alam khalq dan alam amr. Segala sesuatu yang dapat diukur, ditakar, dibagi, dan dipetakan termasuk dalam alam khalq. Hati (yang ia maksud sebagai ruh insani), tidak memiliki ukuran atau batas, karenanya tidak mungkin dipisah-pisahkan. Andaikan hati dapat dibagi, niscaya sebagian darinya berilmu dan sebagian lain bodoh—suatu hal yang mustahil. Dari sisi inilah al-Ghazali menegaskan bahwa hati tergolong dalam alam amr, yakni sesuatu yang sama sekali tidak dapat didekati dengan ukuran dan kuantitas.

Imam al-Ghazali kemudian menanggapi berbagai pendapat keliru mengenai hakikat ruh. Ada yang menyangka ruh itu qadim; ini jelas salah. Ada pula yang menyebut ruh sebagai ‘arad (sifat non-substansial); ini pun tidak mungkin, karena ‘arad bergantung pada selain dirinya. Sebagian mengatakan ruh adalah jism (benda); ini juga mustahil, sebab benda dapat dibagi dan dipisah. Bagi al-Ghazali, ruh—yang ia sebut juga sebagai “hati”—adalah hakikat manusia, asal manusia, dan tempat mengenal Allah. Karena itu ia tidak berbentuk jasmani ataupun sifat, tetapi lebih dekat kepada jenis makhluk cahaya semisal malaikat.

Imam al-Ghazali mengakui bahwa pengetahuan tentang hakikat ruh sangat sulit. Agama tidak membuka jalan untuk mengetahuinya secara rinci, sebab agama menuntut mujāhadah (kesungguhan spiritual), bukan spekulasi metafisik. Allah sendiri berjanji: “Mereka yang bersungguh-sungguh pada jalan Kami, akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” Karena itu, siapa yang belum memasuki jalan mujāhadah sepenuhnya, tidak pantas berbicara tentang hakikat ruh. Titik awal perjuangan batin ialah mengenali “pasukan hati”, sebab seseorang yang tidak mengenal tentaranya sendiri tak mungkin memenangkan jihad batinnya.

Pada bagian berikutnya Imam al-Ghazali menjelaskan tujuan penciptaan hati. Menurutnya, jiwa manusia ibarat tunggangan yang memiliki hati sebagai pengemudi. Hati ini memiliki pasukan yang tidak diketahui kecuali oleh Allah, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu selain Dia.”

Hati diciptakan untuk mengerjakan urusan akhirat, untuk mencari kebahagiaan abadi—dan kebahagiaan itu berakar pada ma‘rifat kepada Allah. Ma‘rifat ini datang dari Allah, bukan dari kemampuan manusia sendiri, namun pintu ma‘rifat dibukakan melalui pengalaman manusia terhadap dunia. Indera manusia menjadi perantaranya; tubuh adalah kendaraan yang membuat indera bekerja. Agar kendaraan itu bertahan, ia memerlukan makanan, minuman, keseimbangan panas dan lembap. Tubuh berada dalam posisi rapuh: dari dalam dapat terserang lapar dan dahaga, dari luar terancam oleh api, air, dan berbagai bahaya. Di sekeliling manusia juga terdapat musuh-musuh yang selalu mengintai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *