Imam Abu Hasan al-Syadzili: Sufi yang Kaya Raya

Lahir di desa Ghumarah, dekat kota Sabtah (Ceuta) yang merupakan sebuah eksklave milik Spanyol yang terletak di Afrika Utara, ujung utara Maghrib (Maroko) pada tahun 593 H (1197 M). Pemerintah Maroko menginginkan Ceuta menjadi bagian teritorialnya. Namun, Pemerintah Spanyol serta pemerintah otonomi dan penduduk Ceuta menolak keinginan itu. Imam Abu Hasan al-Syadzili adalah pendiri Tarekat Syadziliyah. Sebagaimana banyak pendiri tarekat, seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Rifa’iyah, adalah dzurriyah Nabi Muhammad saw, beliau ini juga keturunan Nabi saw dari jalur Sayyidina Hasan.

Dalam pengembaraan mencari ilmu, beliau pernah tinggal di beberapa tempat di antaranya: Baghdad Irak, Syadzilah Tunis dan pada akhirnya tinggal di Aleksandria Mesir. Di Aleksandria sendiri, para Syeikh atau ulama serta pelajar tidak menyebut nisbat Imam ini dengan al-Syadzili (nisbat ke Syādzilah) tetapi menyebutnya dengan al-Syādzdzulī. Sebutan al-Syādzdzulī sendiri berkaitan dengan munajat imam Abu Hasan yang bisa dijumpai dalam beberapa referensi:

قلت: يا رب؛ لم سميتني بالشاذلي، ولست بشاذلي؟ فقيل لي: يا علي؛ ما سميتك بالشاذلي وإنما أنت الشَّاذُّ لِي ـ بتشديد الذال المعجمة ـ يعني: المفرد لخدمتي ومحبتي.

“Aku berkata, Wahai Tuhanku, mengapa Engkau menamaiku al-Syadzili, sedangkan aku bukan berasal dari Syadzila?” Maka dikatakan kepadaku: “Wahai Ali, Aku tidak menamaimu dengan al-Syadzili, tetapi engkau adalah al-syadzdzuli (dengan dzal yang ditasydid), yang artinya: orang yang menyendiri untuk melayani dan mencintai-Ku.”

Imam Abu Hasan al-Syadzili adalah sufi yang kaya raya. Rumahnya seperti istana. Kuda tunggangannya seperti kuda tunggangan raja. Jika Sebagian sufi memakai baju tambalan (muraqqa‘ah) – Ingat, baju yang dikenakan oleh Nabi saw ketika beliau wafat adalah baju dengan 83 tambalan – maka Imam Abu Hasan memakai baju yang paling mewah dan paling mahal. Kata “muraqqa’ah” (مُرَقَّعَة) berasal dari akar kata raqqa’a (رَقَّعَ), yang berarti menambal atau menjahit bagian yang robek. Muraqqa’ah melambangkan kerendahan hati, kesederhanaan, dan pelepasan dari keinginan duniawi. Di samping Nabi saw, Sayyidina Umar juga menggunakan baju tambalan. Gaya hidup yang dijalani oleh Imam Abu Hasan bukan semata-mata keinginan pribadi tetapi sebelumnya beliau sudah melakukan istikharah. Seperti yang pernah beliau ceritakan:

هممت مرة أن أختار القلة من الدنيا على الكثرة، ثم أمسكت، وخشيت سوء الأدب، فلجأت إلى ربي، ورأيت في النوم: كأن سليمان عليه السلام وحوله العسكر ورفع لي عن قدوره وجفانه فرأيت أمرا كما وصفه الله تعالى بقوله:

Suatu ketika aku berniat untuk memilih sedikit dari dunia dibandingkan banyaknya, namun aku menahan diri dan takut berbuat tidak sopan. Maka aku pun berlindung kepada Tuhanku. Dalam tidurku, aku melihat Nabi Sulaiman as dikelilingi oleh bala tentaranya. Kemudian diperlihatkan kepadaku periuk-periuk besar dan bejana-bejana besar miliknya, sebagaimana yang Allah swt gambarkan dalam firman-Nya:

وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍۗ

“Dan (Kami tundukkan pula kepadanya) piring-piring besar seperti kolam dan periuk-periuk yang tetap (di atas tungkunya)” (QS. Saba: 13).

Lalu beliau mendengar seruan:

لا تختار مع الله شيئا، وإن اخترت فاختر العبودية لله اقتداءا برسول الله صل حيث قال: عبدا رسولا، وإن كان ولا بد فاختر أن لا تختار وفر من ذلك المختار إلى اختيار الله

“Jangan memilih sesuatu pun bersama Allah. Jika engkau harus memilih, maka pilihlah penghambaan kepada Allah, meneladani Rasulullah ﷺ yang berkata: ‘Hamba dan Rasul.’ Namun, jika engkau harus memilih sesuatu, pilihlah untuk tidak memilih apa pun, dan larilah dari pilihanmu sendiri menuju pilihan Allah.”

Beliau pun terbangun dari tidurnya, dan setelah itu beliau mendengar seseorang berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilihkan doa bagimu, yaitu:”

اللَّهُمَّ وَسِّعْ عَلَيَّ رِزْقِي مِنْ دُنْيَايَ، وَلَا تَحْجُبْنِي بِهَا عَنْ أُخْرَايَ، وَاجْعَلْ مَقَامِي عِنْدَكَ دَائِمًا بَيْنَ يَدَيْكَ، وَنَاظِرًا مِنْكَ إِلَيْكَ، وَأَرِنِي وَجْهَكَ، وَوَارِنِي عَنِ الرُّؤْيَةِ وَعَنْ كُلِّ شَيْءٍ دُونَكَ، وَارْفَعِ الْبَيْنَ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَكَ، يَا مَنْ هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ، وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ.

‘Ya Allah, lapangkanlah rezekiku dari duniaku, dan jangan jadikan dunia menjadi penghalang bagiku dari akhiratku. Jadikanlah kedudukanku selalu berada di hadapan-Mu, memandang kepada-Mu, dan melihat wajah-Mu. Sembunyikanlah aku dari pandangan dan dari segala sesuatu selain-Mu, dan angkatlah semua hijab yang ada antara aku dengan-Mu. Wahai Dia yang Maha Awal dan Maha Akhir, Maha Zahir dan Maha Batin, dan Dia yang Maha Mengetahui segala sesuatu.’”

Kekayaan yang dimiliki oleh Imam Abu Hasan al-Syadzili tidak sampai melalaikan hatinya untuk zikir kepada Allah swt. Kekayaan yang tidak menjadi penghalang bagi akhirat beliau. Seperti doa orang-orang saleh: اللهم اجعل الدنيا في أيدينا ولا تجعلها في قلوبنا (Ya Allah, jadikanlah dunia berada di tangan kami, dan jangan Engkau jadikan dunia berada di hati kami). Imam Abu Hasan al-Syadzili adalah contoh pribadi yang mempunyai kekayaan sejati. Kaya harta yang didahului dengan kaya hati, seperti yang dijelaskan dalam Hadis riwayat Bukhari Muslim: ﻟَﻴْﺲَ اﻟﻐﻨﻰ ﻋَﻦْ ﻛَﺜْﺮَﺓِ اﻟﻌَﺮَﺽِ، ﻭَﻟَﻜِﻦَّ اﻟﻐِﻨَﻰ ﻏِﻨَﻰ اﻟﻨَّﻔْﺲِ (Hakikat kekayaan bukanlah banyaknya harta tetapi kaya yang sesungguhnya adalah kaya hati)

Imam Abu Hasan wafat pada tahun 1258 M dalam perjalanan haji menuju Makkah di Humaitsarah. Sekitar 6 jam perjalanan darat dari Luxor. Beliau memberi banyak isyarat kepada murid-muridnya sebelum ajal datang menjemput. Sebelumnya beliau pernah berdoa:

يا رب أسكنتنى بلاد القبط أدفن بينهم حتى يختلط لحمى بلحمهم، وعظمى بعظمهم. فقيل لي: يا على، بل تدفن في أرض لم يعص الله عليها قط.

“Ya Rabb, engkau telah menempatkanku di negeri Koptik, semoga Engkau kuburkan aku di antara mereka, sehingga dagingku bercampur dengan daging mereka dan tulangku bercampur dengan tulang mereka”. Kemudian dikatakan kepadaku: “Wahai Ali, sungguh kelak engkau akan dikubur di bumi yang tidak pernah dipakai untuk bermaksiat kepada Allah”.

Ketika Imam Abu Hasan bersiap untuk melakukan perjalanan haji, beliau berpesan:

احملوا معكم فأسا ومسحاة فإن توفى أحد منا واريناه الثرى.

“Bawalah bersama kalian sebuah kapak dan sekop. Jika salah seorang dari kita wafat, kita akan menguburkannya di tanah.”

Sayyid Madhi bin Sulthan, salah seorang murid Imam Abu Hasan yang menyertai dalam perjalanan haji tersebut menceritakan: “Sebelumnya beliau tidak pernah melakukan hal semacam itu dalam semua perjalanan yang pernah aku lakukan bersamanya. Maka hal itu menjadi isyarat atas wafatnya.”

Ketika Imam Abu Hasan jatuh sakit, beliau bermunajat:

إلهى متى يكون اللقاء ؟ فقيل لى : يا على إذا وصلت إلى حميثرة فحينئذ يكون اللقاء. وقد رأيت كأنى أدفن إلى ذيل جبل بإزائه بئر قليلة الماء مالحة يكثر ماؤها ويعذب.

“Tuhanku, kapan pertemuan (dengan-Mu) akan terjadi?” Maka dikatakan kepadaku: “Wahai Ali, ketika engkau tiba di Humaitsarah, maka saat itulah pertemuan akan terjadi.” Dan aku melihat seolah-olah aku dikuburkan di kaki sebuah gunung yang di sekitarnya ada sebuah sumur dengan air yang sedikit dan asin, yang kemudian airnya menjadi banyak dan menjadi tawar.”

Sebelumnya, air sumur di Humaitsarah rasanya asin dan pahit. Kemudian Imam Abu Hasan menyuruh salah seorang muridnya untuk membawakan air sumur dari tempat itu. Maka sang murid berkata kepadanya: “Wahai Tuanku, airnya asin dan pahit, sedangkan air yang kita miliki tawar dan segar.” Namun beliau menjawab: “Bawakan untukku air dari sana, karena maksudku bukan seperti yang kau kira.”

Setelah dibawakan bejana yang penuh dengan air, dan beliau meminumnya, berkumur, lalu meludahkannya kembali ke dalam bejana. Kemudian beliau menyuruh muridnya untuk mengembalikan air itu ke sumur. Dengan izin Allah swt, air sumur tersebut menjadi manis, tawar, dan melimpah.

Peristiwa di atas adalah kejadian luar biasa yang diberikan oleh Allah kepada wali-Nya. Karena para wali itu dalah ulama pewaris Nabi saw. Sebagaimana maklum, Nabi Muhammad saw pernah meludahi air sumur di Ji’ranah yang rasanya asin. Setelah diludahi, air sumur tersebut menjadi tawar. Seperti yang dikatakan oleh Sayyidah Rabi’ah al-Adawiyah, barangsiapa mengikuti jejak Nabi maka dia akan memperoleh sepercik kenabian.

Sebelum Imam Abu Hasan al-Syadzili wafat, beliau menunjuk Syekh Abu ‘Abbas al-Mursi -yang pada waktu itu juga ikut serta dalam perjalanan haji- sebagai mursyid penerus Tarekat Syadziliyah. Wallahu a‘lam.