Wali Gendut

Sinonim dari kata “gendut” dalam bahasa Indonesia adalah gemuk, tambun, gembrot, gempal, berisi, berbadan dua, dan buncit. Yaitu merujuk pada kondisi tubuh yang memiliki banyak daging atau lemak.

Nabi Muhammad saw dalam beberapa riwayat disebutkan memiliki tubuh yang ideal. Perut dan dada beliau rata. Tidak gendut, kadang terlihat kempis. Berkaitan dengan perut gendut, terdapat riwayat yang menyebut Sayyidina Umar memberi peringatan untuk waspada terhadap perut yang gendut karena terlalu banyak makan, yang membuat malas dalam melaksanakan salat, merusak tubuh, mewariskan penyakit, dan Allah Swt membenci orang yang perutnya gendut.

Berbekal bacaan yang terbatas itu -dahulu- lebih dari 25 tahun yang lalu, ketika sowan ke rumah seorang wali di Bangil Pasuruan Jawa Timur, saya sempat berprasangka buruk karena ybs bertubuh gendut alias perutnya buncit. “Wali kok perutnya gendut?” gumam saya dalam hati. Masih menurut penilaian saya pada waktu itu, seorang wali harusnya banyak tirakat, berpuasa dan mempunyai perut yang rata seperti perutnya Nabi saw. Tampaknya wali tersebut mengetahui prasangka buruk saya sehingga beliau sempat memalingkan muka dan pisowanan itu terasa canggung dan kaku.

Belakangan, saya menjumpai referensi yang menjelaskan bahwa ada (sebagian) wali yang bertubuh gendut. Syekh ‘Abd al-Wahhab al-Sya‘rani dalam kitab الأنوار القدسية في معرفة قواعد الصوفية mengutip nasihat Syekh Abu al-‘Abbas al-Mursi, agar menjauhi prasangka buruk terhadap orang gendut: “Janganlah kalian mencela orang yang kalian lihat gendut, karena cinta (kepada Allah) jika telah menguasai seorang hamba, akan membuatnya gendut.”

Syekh Abu Bakar al-Syibli, murid Syeikh Junaid al-Bahgdadi, digambarkan sebagai sosok yang sangat gendut, dan apabila ada yang menyinggung tentang hal itu kepadanya, dia berkata: “Setiap kali aku ingat hamba siapa diriku ini, tubuhku semakin bertambah gendut.”

Suatu ketika seorang murid masuk menemui seorang syekh yang gendut. Dia melihat syekh itu menasihati para muridnya untuk zuhud terhadap dunia, sedangkan tubuhnya sendiri gendut seperti beruang. Maka syekh itu pun menyingkap rahasia (keadaan batinnya) dan berkata: “Demi keagungan-Nya, bukan makanan yang membuatku gendut, melainkan cinta-Nya Yang Maha Tinggi.”

Tidak hanya generasi tabi‘in atau tabi‘it tabi‘in, di antara para sahabat Nabi saw, ada juga sosok yang digambarkan bertubuh gendut alias berperut buncit. Di Indonesia, para wali yang bertubuh tambun di antaranya adalah Allāhu yarḥam Gus Dur. Lahum al-fātiḥah.