Dalam Tatimmah Shiwan al-Hikmah, Mazharuddin al-Bayhaqi menukil biografi dan pandangan beberapa tokoh hikmah dalam tradisi Islam. Di antara yang ia sorot ialah sosok al-Raghib al-Isfahani, pemilik nama lengkap Abu al-Qasim al-Husayn ibn Muhammad ibn al-Mufaddal. Ia dipandang sebagai figur yang berhasil menjembatani disiplin syariat dan hikmah dalam karya-karyanya. Al-Bayhaqi menyebut sejumlah karyanya—Ghurrah al-Tanzil, Durrah al-Ta’wil, al-Dzari‘ah, serta Kalimāt al-Shahābah. Ia mencatat pula bahwa perhatian al-Raghib terhadap disiplin akal sangat menonjol.
Dalam muqaddimah Tafshil al-Nasy’atayn wa Tahshil al-Sa‘ādatayn, al-Raghib melukiskan fenomena manusia yang berbicara berlandaskan hawa, belajar hal-hal yang tidak membawa manfaat sejati, mengetahui dunia pada permukaannya saja, serta berdebat dengan argumentasi yang menutup cahaya kebenaran. Ia menyebut bahwa sebagian orang memutuskan perkara dengan logika jahiliah, mempersekutukan Allah, dan secara lahir tampak seperti manusia namun kehilangan ruh kemanusiaannya. Untuk melukiskan keadaan tersebut, ia mengutip sabda Ali ibn Abi Talib: asybāh al-rijāl wa lā rijāl—bayangan laki-laki yang tak lagi berjiwa lelaki. al-Buhturi juga pernah mengekspresikan keadaan serupa dalam baitnya: tidak tersisa dari kebanyakan manusia kecuali rupa yang disangka hidup oleh waham belaka.
Al-Raghib memaparkan bahwa manusia diciptakan agar layak bagi dua kehidupan, dunia dan akhirat. Setiap ciptaan memiliki petunjuk menuju maslahatnya; bagi manusia petunjuk itu hadir melalui akal dan syariat yang saling menguatkan. Siapa yang tidak memperkuat dirinya dengan syariat dan ibadah, ucapnya, tidak layak disebut manusia. Ibadah adalah sarana penyucian jiwa; penyakit-penyakit batin tak dapat disembuhkan tanpa syariat. Manusia juga diberi kemampuan menimbang akibat (nazar fil ‘awāqib)—sifat khusus yang menunjukkan bahwa dirinya memang diciptakan untuk kehidupan berikutnya. Andaikan manusia tidak memiliki akhirat sebagai tujuan, kekuatan akal yang memandang akibat itu akan menjadi potensi sia-sia; bahkan keberadaannya akan lebih buruk daripada hewan, sebab ia memikul keletihan yang tidak dibebankan kepada hewan. Untuk menegaskan prinsip ini, ia mengutip firman Allah: “Apakah kalian mengira Kami menciptakan kalian secara main-main dan kalian tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
Ia lalu menambahkan bahwa struktur jasmani manusia yang dibangun, lalu diruntuhkan kembali, tidak mungkin berakhir pada nasib yang sama dengan makhluk yang hanya hidup untuk kebutuhan badani semata. Riwayat Nabi Muhammad ia jadikan penutup: dunia hanyalah tempat lewat, bukan tempat tinggal; manusia diciptakan untuk keabadian dan akan dipindahkan dari satu negeri ke negeri lain sampai mencapai ketetapan terakhirnya.
Al-Bayhaqi kemudian menampilkan potret tokoh hikmah lain: Abu al-Qasim Ibn Abi Sadiq al-Naysaburi, seorang tabib besar dari Nisyapur yang dijuluki Hippocrates Kedua. Ia mencapai derajat tinggi dalam ilmu hikmah—khususnya kedokteran—dan menghasilkan komentar berharga atas persoalan-persoalan Hunayn serta Fushul Hippocrates. Sosoknya digambarkan berakhlak baik dan sangat teliti dalam praktik medis.
Al-Bayhaqi menuturkan cerita yang ia dengar langsung dari seseorang yang pernah bersamanya: di usia senja, Ibn Abi Sadiq memilih hidup menyepi di sebuah desa indah sekitar Nisyapur bernama Inburdhistānah. Suatu hari ia ditemui sedang menikmati aroma buah-buahan musim panas tanpa menyentuhnya. Ia menjelaskan bahwa buah-buahan itu dapat membahayakan tubuhnya; ia cukup mengambil manfaat dari aroma dan kesejukan udaranya. “Sebagaimana engkau tidak berselera menghirup minyak wangi, aku tidak berselera memakan buah yang membahayakan tubuhku. Aku mengistirahatkan diriku dari akibat buruknya,” ujarnya.
Kemahirannya dalam mengobati dikenal luas. Suatu ketika pejabat Khurasan, Muhammad ibn Mansur, terkena kolik yang sulit disembuhkan para tabib lainnya. Ia memanggil Ibn Abi Sadiq dengan penuh kehormatan. Namun perjalanan dari desa ke Nisyapur yang jaraknya sekitar dua belas farsakh berlangsung sangat panas; hewan tunggangannya liar, gerakannya cepat, dan udara menyengat. Sang tabib berkata kepada murid-muridnya: “Tampaknya pejabat itu akan selamat, tetapi aku akan binasa.” Ucapannya benar: setelah tiba di Nisyapur dan berhasil mengobati sang pejabat, dirinya justru jatuh sakit dan wafat dalam usia lebih dari delapan puluh tahun.
Dikisahkan pula bahwa seorang sultan pernah memanggilnya untuk bekerja di istana. Ia menolak dengan alasan: “Seseorang yang cukup dengan apa yang ada padanya tidak cocok untuk pekerjaan istana. Orang yang dipaksa melayani tidak akan menghasilkan pelayanan yang bermanfaat—seperti elang yang dipaksa berburu.” Kemudian Ibrahim dari Ghazna mengirim hadiah besar beserta tandu dan kendaraan untuk mengundangnya ke istana. Ibn Abi Sadiq menjawab dengan halus: “Sultan mencari ilmuku, lalu mengorbankan hartanya demi itu. Ini seperti jual beli, dan ilmu tidak layak diperjualbelikan. Aku tidak membutuhkan hadiah itu, dan mengajarkan ilmu kepada penduduk negeriku lebih utama. Aku cukup mendoakan kebaikan untuk sultan, dan membebaskan diriku dari beban balas budi.”
Ia menutup nasihatnya dengan kalimat yang menjadi prinsip dasar etika keilmuannya: tabib sejati adalah yang terlebih dahulu mengobati jiwanya sendiri dengan kebajikan dan melihat racun dalam setiap kerendahan moral. Setelah itu barulah ia turun mengobati tubuh manusia. Siapa yang langsung mengobati jasad tanpa pernah mengobati jiwanya, kata Ibn Abi Sadiq, termasuk golongan yang berada pada derajat terendah manusia.





