Syekh Nawawi dalam Nahjatul Jayyidah menegaskan kembali penjelasan Imam al-Ash’ari dan para ulama Ahlussunnah mengenai konsep kasb—yakni kehendak dan tindakan manusia yang terikat sepenuhnya pada iradah Allah. Pandangan ini sekaligus menepis dua kutub ekstrem: kelompok Qadariyah yang beranggapan bahwa manusia menciptakan perbuatannya sendiri, serta Jabariyah yang memvonis manusia tidak memiliki perbuatan sama sekali.
Syekh Nawawi lalu menghadirkan perumpamaan yang dibuat oleh Imam Malawi. Ia menggambarkan seseorang yang hendak memotong semangka. Orang itu menyiapkan pisau, menajamkannya, dan memastikan tidak ada penghalang bagi pisau untuk menjadi sebab terpotongnya semangka. Selama pisau hanya diletakkan di atas semangka tanpa ditekan, semangka itu takkan terbelah. Sebaliknya, jika ia menekan sesuatu yang tumpul—seperti rotan atau kayu—maka semangka pun tetap tidak akan terpotong meski ia berusaha keras.
Manusia, menurut Syekh Nawawi, serupa dengan pisau yang Allah ciptakan dan siapkan dengan daya untuk bertindak. Karena itu, orang yang berkata “akulah pencipta perbuatanku” sama seperti orang yang mengira pisau dapat memotong dengan sendirinya tanpa ada dorongan tangan. Sementara orang yang menyatakan bahwa Allah semata yang menciptakan perbuatan tanpa melibatkan manusia, digambarkan seperti seseorang yang mengklaim dapat memotong semangka hanya dengan menekan tangan kosong atau benda tumpul—seakan pisau tidak memiliki peran apa pun.
Posisi yang benar, tegas Syekh Nawawi, adalah pengakuan bahwa manusia menerima kemampuan yang Allah ciptakan dan persiapkan baginya, lalu ia bertindak menggunakan kemampuan itu sebagai sebab yang diizinkan Allah. Sebab-sebab inilah yang secara konsisten dijalankan Allah dalam kebiasaan-Nya terhadap makhluk, meskipun pada hakikatnya Ia berkuasa melakukan apa saja di luar kebiasaan tersebut.
Dengan pemahaman ini, menurut Syekh Nawawi, kebenaran menjadi jelas: tindakan manusia berlangsung melalui kasb, sedangkan penciptaan hakiki tetap milik Allah. Tidak ada keraguan dalam posisi ini, dan inilah jalan tengah yang dipegang Ahlussunnah.





